Komunikasi Antar Generasi Dimulai dari Husnuzan dan Kemauan Saling Memahami

banner

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Perbedaan karakter antar generasi sering menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Perbedaan cara pandang antara generasi baby boomers, Generasi X, milenial, Generasi Z, hingga Generasi Alpha kerap melahirkan kesalahpahaman dalam komunikasi sehari-hari. Padahal, perbedaan tersebut merupakan konsekuensi dari latar belakang zaman yang berbeda sehingga tidak semestinya dipandang sebagai sumber pertentangan.

Hal itu disampaikan Dewi Masyitoh dalam podcast Indahnya Cahaya Islam yang tayang pada Senin (20/07). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa keharmonisan keluarga tidak lahir karena semua anggota memiliki cara berpikir yang sama, melainkan karena adanya kesediaan untuk saling memahami.

“Generasi ini dilahirkan dalam situasi yang berbeda antara satu generasi dengan generasi yang lain. Jadi cara memandang hidupnya jadi berbeda juga,” ujar Dewi.

Ia menjelaskan bahwa setiap generasi dibentuk oleh kondisi sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang berbeda. Pengalaman hidup itulah yang kemudian membentuk karakter, pola komunikasi, hingga cara menyikapi persoalan sehari-hari.

Dewi bahkan menceritakan pengalamannya sendiri yang hidup bersama empat generasi dalam satu keluarga, mulai dari baby boomers, Generasi X, milenial, hingga Generasi Z. Menurutnya, dinamika tersebut membuat setiap anggota keluarga dituntut untuk terus belajar memahami satu sama lain.

“Kesadaran kita untuk saling mengenal latar belakang yang kemudian membentuk generasi itu dengan tipikal-tipikal tertentu memang harus selalu ditumbuhkan,” katanya.

Ia juga menyoroti perubahan besar yang dibawa oleh kemajuan teknologi. Sebagai orang yang mengalami masa sebelum era digital, Dewi merasakan perbedaan yang sangat kontras dibandingkan generasi sekarang.

“Saya termasuk yang mengalami pra-digital. Dulu kita tidak teralihkan dengan teknologi, jadi senang sekali kumpul. Makanya sekarang generasi kami senang reuni,” ungkapnya sambil mengenang masa ketika interaksi sosial lebih banyak dilakukan secara langsung.

Menurut Dewi, perubahan zaman turut mengubah gaya komunikasi. Hal-hal yang dahulu dianggap sopan belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh generasi sekarang. Karena itu, setiap generasi perlu menyesuaikan cara berkomunikasi.

“Gaya komunikasinya juga harus berbeda. Bagaimana kepada generasi tertentu kita harus berkomunikasi dengan cara yang berbeda,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa solusi bukanlah memaksa salah satu generasi mengikuti generasi lainnya. Yang diperlukan ialah sikap saling belajar dan saling menyesuaikan diri.

Menurut Dewi, prinsip pertama yang harus dibangun adalah husnuzan atau berprasangka baik. Banyak konflik muncul bukan karena persoalan yang besar, melainkan karena masing-masing pihak menilai orang lain menggunakan sudut pandangnya sendiri.

“Yang pertama memang husnuzan. Jangan mengikuti prasangka. Karena tidak memahami perbedaan latar, akhirnya ada prasangka,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa prasangka tersebut kemudian melahirkan berbagai stereotip. Generasi tua dianggap kolot, sementara generasi muda dicap nyeleneh atau tidak sopan. Padahal, masing-masing hanya melihat persoalan dari perspektifnya sendiri.

Setelah husnuzan tumbuh, komunikasi yang baik akan lebih mudah terbangun.

“Kalau sudah dengan husnuzan, nanti akan keluar juga kalimat komunikatif yang baik, misalnya lemah lembut,” ujarnya.

Selain itu, Dewi menilai keluarga perlu menyediakan ruang khusus untuk berdialog. Kesibukan setiap anggota keluarga, termasuk orang tua yang kini juga banyak menghabiskan waktu bersama telepon genggam, tidak boleh menghilangkan komunikasi yang hangat di rumah.

“Memang ada kesepakatan bersama bahwa di dalam keluarga ini mau dibawa ke mana. Tapi itu baru bisa ditemukan kalau kita dekat dengan keluarga. Kalau enggak dekat, komunikasi enggak berjalan dengan baik,” katanya.

Dalam pandangan Dewi, perbedaan pendapat bahkan perdebatan bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru melalui dialog, setiap anggota keluarga dapat memahami perasaan dan kebutuhan satu sama lain.

“Pertengkaran atau debat saya kira enggak apa-apa, justru untuk saling tahu,” ujarnya.

Dewi kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan ajaran Islam. Ia mengutip pesan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib agar orang tua mendidik anak sesuai dengan zamannya.

“Didiklah anakmu karena anakmu akan hidup pada zamannya, bukan pada zamanmu,” katanya.

Menurutnya, pesan tersebut mengingatkan bahwa orang tua tidak bisa sepenuhnya menggunakan standar pendidikan masa lalu untuk menghadapi tantangan kehidupan anak-anak saat ini.

Dalam hubungan keluarga, ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penghormatan dan kasih sayang.

“Kepada yang tua itu menghormati, kepada yang muda itu menyayangi,” ujarnya. Menurutnya, sekalipun terjadi perbedaan pendapat yang tajam, nilai hormat dan kasih sayang harus tetap dipertahankan.

Ketika konflik sudah memuncak dan emosi sulit dikendalikan, Dewi menyarankan setiap pihak mengambil jeda sebelum melanjutkan pembicaraan. Ia mengutip hadis Nabi yang menganjurkan seseorang berkata baik atau diam.

“Kalau memang kondisinya tidak memungkinkan, lebih baik diam. Sering kali diam itu menjadi penyelamat,” tuturnya.

Setelah suasana kembali tenang, masalah perlu segera diselesaikan melalui dialog. Dewi membedakan antara prinsip-prinsip yang bersifat tetap, seperti akidah dan akhlak, dengan persoalan teknis kehidupan yang dapat disesuaikan melalui musyawarah.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa orang tua harus menjadi teman dalam arti yang sama seperti teman sebaya. Menurutnya, yang dimaksud adalah menghadirkan rasa nyaman sehingga anak berani membuka diri kepada orang tuanya.

“Anak itu nyaman untuk membuka diri, menyampaikan kegelisahannya. Bukan berarti orang tua menjadi seperti teman sebaya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *