Sleman –
Inovasi unik dilakukan SMP Negeri 1 Turi, kabupaten Sleman, untuk menegakkan aturan siswa dilarang bermain ponsel saat pelajaran. Pihak sekolah membuat loker ponsel dengan nomer absen sehingga siswa tak bisa mencuranginya.
Adapun bentuk loker itu cukup unik. Loker terdiri dari puluhan slot seukuran ponsel. Cara ini membuat ponsel para siswa tertata secara teratur. Tentu saja, loker ini disertai dengan penutup dan kuncinya.
Sekolah tersebut mengunggah video loker itu ke akun Instagramnya. Dalam waktu sebulan video itu sudah ditonton oleh 5 juta pengguna. Rata-rata memberikan komentar yang bernada pujian terhadap kebijakan sekolah maupun bentuk lokernya yang unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala SMP Negeri 1 Turi, Hospita Henny Koerniati, menjelaskan awal mula tercetus ide membuat inovasi loker ponsel ini berawal dari keprihatinannya melihat para siswa sibuk dengan gawainya saat waktu istirahat. Siswa menurutnya seperti anti-sosial tanpa adanya interaksi satu sama lain.
“Saya amati setiap istirahat itu anak-anak main HP, tidak saling bercakap, bercanda dengan temannya. Bahkan saya lewat diabaikan,” kata Henny saat dijumpai di SMP N 1 Turi, Kamis (23/7/2026).
Selain itu, lanjut Henny, banyak siswa yang saat jam pelajaran malah asyik bermain gawai tanpa memperhatikan penjelasan guru.
“Bahkan waktu itu ada yang main game itu, rame-rame beberapa siswa, apa namanya itu, mabar ya kalau nggak salah,” terang Henny.
Pihak sekolah kemudian membuat kebijakan dengan mengumpulkan ponsel siswa ke dalam boks dan disimpan di ruang guru. Namun cara tersebut banyak dikeluhkan siswa lantaran ponsel mereka banyak yang rusak.
Akhirnya muncul ide membuat loker ponsel. Loker tersebut dipasang di depan kelas dengan tutup menggunakan material bening. Di dalam loker, ada semacam slot yang muat untuk satu ponsel. Setiap slot diberi nomor sesuai nomor absen siswa.
“Ada di tiap kelas, 12 (jumlahnya), empat kelas VII, empat kelas VIII, empat IX. Loker dipesan khusus, dari (perajin) luar DIY,” ungkap Henny.
“Pagi hari sebelum mulai pelajaran, siswa memasukkan HP-nya ke loker, terus dikunci, kuncinya diserahkan ke ruang guru. Kan ada nomernya to itu, jadi jelas yang tidak mengumpulkan siapa,” sambungnya.
Meski begitu, kata Henny, para siswa masih tetap bisa mengambil dan menggunakan ponselnya dengan alasan tertentu. Termasuk saat guru menghendaki pembelajaran menggunakan ponsel.
“Nggak ada pelajaran khusus, kalau guru ada materi yang harus menggunakan HP ya silakan saja atau saat ulangan yang soalnya perlu sarana HP. Atau saat anak-anak perlu mengabari orang tuanya, nah itu bisa minta ke guru,” ujar Henny.
“Pas istirahat itu juga tidak diperkenankan, kecuali ada tugas dari guru. Jadi mereka bermain dengan teman-teman, bersosialisasi, tujuannya seperti itu. Sampai sekarang akhirnya ada sinergi antara guru sama siswa bahwa memang HP itu digunakan untuk hal-hal yang penting,” imbuhnya.
Kebijakan ini ternyata berdampak cukup signifikan terhadap siswa. Menurut Henny, para siswa jadi lebih bisa konsentrasi saat belajar. Kemudian siswa jadi percaya diri dalam pelajaran lantaran tak lagi mengandalkan ponsel.
Selain itu, suasana saat jam istirahat pun kembali hidup. Tanpa memegang ponsel, siswa jadi menghabiskan waktu istirahat untuk bermain, bersosialisasi hingga ke perpustakaan.
“Dampaknya sangat luar biasa. Jadi mereka gojekan sama temannya. Gojekan sama teman, saling berbicara, kemudian beranjang sana ke kelas 8, kelas 9, seperti itu. Jadi saling kenal. Kalau dulu tuh sudah asyik di pojokan sendiri masing-masing, saya lewat pun nggak disapa,” pungkasnya.
(ams/ahr)








