“Apa Bedanya Menulis dengan Curhat?” Disertasi Dosen UNUSIA Bongkar Cara Perempuan Memproduksi Pengetahuan

banner

Depok, Katasulsel.com – “Apa bedanya menulis dengan curhat?” Pertanyaan itu dilontarkan penguji kepada Moh. Faiz Maulana dalam sidang promosi doktor bidang Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Senin (20/7/2026).

Faiz, dosen sekaligus Kaprodi Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), diminta menjelaskan mengapa tulisan tentang pengalaman perempuan dapat disebut sebagai proses produksi pengetahuan, sementara curhat atau ekspresi emosi tidak serta-merta memiliki kedudukan yang sama.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu perdebatan penting dalam sidang disertasi Faiz berjudul “Menceritakan Pengalaman, Menuliskan Pengetahuan: Pengembangan Epistemik dan Produksi Pengetahuan Feminis di Komunitas Puan Menulis.”

Dalam paparannya, Faiz membawa penguji pada pengalaman sehari-hari perempuan.

Tentang ibu yang mengurus rumah, merawat anak, menghadapi kelelahan tubuh, hingga menjalani pekerjaan domestik yang seolah tidak pernah selesai.

Pengalaman semacam itu, menurut Faiz, sering kali dianggap terlalu personal untuk disebut sebagai pengetahuan.

Bahkan, ketika ditulis, pengalaman tersebut kerap dipandang hanya sebagai curhat.

Padahal, bagi Faiz, pengalaman sehari-hari perempuan menyimpan pengetahuan tentang bagaimana kehidupan sosial bekerja.

“Selama ini perempuan merasa mengalami itu sendiri. Tapi bagaimana kalau itu diceritakan dengan tulisan, maka perempuan yang lain bisa membaca tulisan itu dan merasakan bahwa ada situasi yang sama,” jelas Faiz dalam sidang.

Menulis Bukan Sekadar Curhat

Dalam penelitiannya, Faiz mengkaji praktik menulis di Komunitas Puan Menulis.

Ia menemukan bahwa pengalaman personal perempuan dapat berubah menjadi pengetahuan kolektif ketika ditulis, dibaca, dan dibicarakan bersama.

Seorang perempuan yang semula merasa sendirian dengan persoalannya dapat menemukan bahwa pengalaman serupa juga dialami perempuan lain.

Dari sana, muncul pertanyaan yang lebih besar.

Apakah persoalan tersebut benar-benar personal, atau justru berkaitan dengan persoalan sosial yang lebih luas?

Menurut Faiz, di titik inilah menulis menjadi penting.

Tulisan memungkinkan pengalaman perempuan memperoleh bahasa dan ruang untuk dibicarakan.

Perempuan tidak hanya menjadi objek yang diceritakan, tetapi juga memiliki otoritas untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri.

Bagi Faiz, menulis bukan hanya soal merangkai kata.

Tulisan menjadi ruang bagi perempuan untuk membaca kembali pengalaman mereka, membagikannya, dan menemukan bahwa persoalan yang dihadapi tidak selalu berdiri sebagai masalah pribadi.

Saat Perempuan Merebut Hak untuk Bercerita

Faiz menjelaskan, perempuan selama ini lebih sering hadir sebagai objek representasi.

Kehidupan perempuan diteliti, ditulis, dan dijelaskan oleh orang lain.

Sementara itu, ruang bagi perempuan untuk mendefinisikan pengalaman mereka sendiri masih terbatas.

Karena itu, praktik menulis di Komunitas Puan Menulis menjadi penting.

Melalui tulisan, para perempuan membicarakan tubuh, kerja domestik, kesehatan reproduksi, perkawinan, kelajangan, tafsir keagamaan, hingga kekerasan seksual.

Tulisan tidak hanya merekam pengalaman. Ia juga menjadi cara untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar.

Temuan Faiz menunjukkan bahwa pengetahuan di dalam komunitas tersebut tidak lahir dari individu yang bekerja sendirian.

Pengetahuan tumbuh melalui percakapan, saling membaca, berbagi pengalaman, dan solidaritas.

Di sana, afeksi tidak diposisikan sebagai lawan pengetahuan.

Sebaliknya, relasi emosional dan pengalaman bersama menjadi bagian dari proses terbentuknya kesadaran kritis perempuan.

Dari sana, pengalaman yang semula dianggap sebagai persoalan pribadi mulai terbaca sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas.

Di ruang sidang, Faiz tidak hanya mempertahankan temuan penelitiannya.

Ia juga menjelaskan mengapa pengalaman yang selama ini dianggap kecil layak didengarkan sebagai bagian dari pengetahuan sosial.

Dari Aktivisme ke Ruang Akademik

Moh. Faiz Maulana lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 1990.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di STAINU Jakarta pada 2014 dan meraih gelar Magister Antropologi Universitas Indonesia pada 2019.

Selain menjadi dosen UNUSIA, Faiz memiliki rekam jejak dalam pengembangan komunitas, literasi, dan isu perempuan.

Ia pernah terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi serta menjadi salah satu pendiri dan pembina Equality Institute.

Kajian dalam disertasinya juga melanjutkan konsistensi Faiz dalam meneliti isu perempuan, gender, budaya, dan relasi sosial.

Di ruang sidang, Faiz turut ditanya mengenai posisi antropologi di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Ia menilai ilmu sosial tetap memiliki peran penting karena persoalan sosial tidak selalu dapat dipahami melalui teknologi atau teori besar semata.

Menurutnya, antropologi memiliki kekuatan pada perjumpaan langsung dengan manusia dan pengalaman sosial yang mereka jalani.

Sidang promosi doktoral di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI itu akhirnya menandai capaian akademik Faiz.

Ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan meraih IPK 3,79.

Namun, disertasinya meninggalkan satu pertanyaan yang lebih luas: mengapa pengalaman perempuan masih sering dianggap hanya sebagai curhat?

Bagi Faiz, menulis bukan sekadar cara perempuan menceritakan hidupnya.

Di dalamnya, ada upaya untuk memahami dunia sosial dari pengalaman mereka sendiri.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *