Mikirduit – Arus kas bebas atau free cash flow menjadi salah satu metriks yang mungkin tidak terlalu sering dilirik para pelaku pasar dari segmen ritel saat ini. Alasannya sederhana, melihat pergerakan harga saham setiap hari seolah-olah lebih menarik daripada membongkar daleman bisnis sebuah emiten. jadi, apakah membongkar arus kas bebas sebuah emiten itu masih cukup penting untuk bisa cuan di pasar saham?
Metriks free cash flow masih cukup penting, hanya saja tidak bisa dijadikan metriks tunggal untuk mencari sebuah saham yang bagus. Tujuan penggunaan metriks fundamental ini bukan mencari saham yang besok akan naik kencang, tapi mencari saham yang underlying bisnisnya tangguh hingga menarik untuk diinvestasikan.
Penjelasan Bruce Berkowitz dalam buku Securities Analysis karya Benjamin Graham dan David L. Dodd Jilid 2 Edisi Ke-6 cukup menarik. Pengantar dari Bruce muncul untuk buku tersebut dalam bagian Common-stock Theory.
Bruce bercerita tentang pemahamannya terkait free cash flow dimulai dari sebuah toko kelontong tempatnya jajan waktu kecil. Bruce mendeskripsikan toko kelontong memiliki kasir yang ada di meja panjang dekat pintu di depan toko. Dari uang yang berada di laci meja kasir itu, pemilik toko bisa mengalokasikannya untuk persediaan baru, bayar sewa tempat, menjaga kebersihan atau menambah rak toko, hingga membayar gaji untuk pemilik toko itu sendiri.
Jika masih ada sisa uang tunai dari hasil penjualan dan juga pengeluaran, sang pemilik toko gunakan untuk mendorong pertumbuhan bisnis-nya, hingga menaikkan taraf hidup-nya. Nah, sisa uang tunai itu adalah free cash flow secara sederhana.
Namun, analisis free cash flow untuk kebutuhan investasi saham tidak se-sederhana itu karena akan tergantung dengan sektor bisnis yang akan dianalisis.
Misalnya, dalam buku Security Analysis dari Graham dan Dodd, keduanya berpendapat analisis aset bisnis hingga kekuatan laba dan arus kas cukup untuk menghitung potensi return yang bisa didapatkan di masa depan dari asumsi harga wajar yang didapatkan. Dari situ, seorang investor saham bisa mendapatkan gambaran apakah saham tersebut layak dibeli atau tidak dengan menggunakan asumsi, jika harga saham saat ini berada di atas harga wajar berarti cukup berisiko, sedangkan jika berada di bawah harga wajar berarti bisa dianggap menarik.
Pandangan Graham dan Dood ini berasal dari pandangan kalau saham dengan obligasi (korporasi) itu memiliki kemiripan, yakni memiliki nilai yang jelas untuk perhitungan return. Misalnya, obligasi memiliki return yang terdiri dari komitmen kontrak yang sudah disepakati (terkait kupon obligasi), sedangkan saham bisa terdiri dari dividen yang dibayarkan dari laba hasil bisnis atau free cash flow yang bukan hanya bisa digunakan untuk dividen, tapi juga ekspansi bisnis.
Distraksi Dalam Penilaian Free Cash Flow
Dalam menganalisis sebuah emiten terus mengalami perubahan seiring dengan waktu sesuai dengan perkembangan zamannya.
Misalnya, pada era 1930-an, analisis dilakukan dengan mengukur aset yang berwujud. Alasannya, ekspansi bisnis kala itu dalam bentuk berwujud seperti, pabrik, alat transportasi, infrastruktur publik, hingga produksi bahan baku (tambang hingga petrokimia). Dalam proses bisnisnya, semua butuh bangun pabrik, gedung, dan hal yang berwujud lainnya.
Mau mulai investasi saham AS? Kamu bisa pilih gunakan 5 aplikasi ini:
- XTB Indonesia bisa mendapatkan bonus maksimal 25 Dolar AS, daftar dengan kode MIKIRDUIT dari link ini
- Pluang bisa berpeluang mendapatkan hadiah hingga Rp1 juta dengan klik link ini
- Ajaib dapatkan hadiah jika join dengan klik link ini
- Nanovest dapatkan bonus Rp40.000 jika join dengan klik link ini
- Gotrade Indonesia berkesempatan untuk dapat hadiah 120 dolar AS dengan klik link ini
Saat memasuki era teknologi, terutama di 1990-an baru mulai muncul aset tak berwujud dalam bentuk perangkat lunak, merek yang diakuisisi, pelanggan, portofolio produk, yang tidak muncul secara eksplisit di neraca.
Bruce bercerita, sebagai fund manager di Fairholme, mereka memulai analisis dengan menghitung free cash flow. Caranya, menghitungnya dimulai dari:
- Laba bersih yang di-definisikan dalam Generally Accepted Accounting Principles (GAAP)
- Menambahkan dengan biaya non-tunai seperti depresiasi dan amortisasi. Alasannya, dua pos itu menjadi beban yang tidak mencerminkan pengurangan nilai sebenarnya atas aset-aset terkait.
- Dari hasil itu, dikurangi dengan perkiraan biaya perusahaan untuk memelihara aset berwujudnya seperti kantor, pabrik, persediaan, peralatan, hingga aset tidak berwujud seperti, trafik website yang konversi menjadi pelanggan, hingga identitas merek.
Namun, di luar tiga ini, Bruce menekankan ada banyak bias angka akuntansi lainnya yang harus diperhatikan seperti:
- perusahaan sering salah memperhitungkan biaya pensiun dan tunjangan kesehatan karyawan pasca pensiun. Akhirnya, mereka membuat ekspektasi keuntungan investasi yang cukup tinggi atau membuat perkiraan biaya kesehatan yang terlalu rendah di masa depan
- Perusahaan juga sering menyepelekan biaya yang muncul dari pemberian opsi saham (MESOP) kepada manajemen hingga karyawan. Padahal, ada kemungkinan perusahaan mengeluarkan biaya buyback yang lebih besar daripada pendapatan yang didapatkan dari karyawan dan manajemen yang menerima opsi saham tersebut.
- Sumber laba lain-lain yang berasal dari kontrak pasokan jangka panjang. Hal ini pernah dilakukan Enron yang menjalankan perjanjian perdagangan jangka panjang. Dari kontrak jangka panjang itu, perusahaan membuat perkiraan yang sangat optimistis untuk laba bersih di masa depan meski belum menjadi uang tunai dari kondisi saat ini.
- Beberapa perusahaan malah membuat free cash flownya terlihat lebih kecil. Hal ini terjadi di perusahaan asuransi yang membuat hitungan biaya investasi ke dalam pertumbuhan kinerjanya seperti, pelanggan baru di perusahaan asuransi mobil bisa menyerap biaya 20-30 persen lebih besar daripada menerima kas dari para pemegang polis baru di tahun pertama karena dikaitkan dengan imbalan ke agen asuransi.
MSCI Ubah Aturan Extreme Price Increase, Begini Dampaknya ke Pasar Saham Indonesia
MSCI melakukan perubahan terkait kebijakan extreme price increase. Dampaknya bisa cukup kurang bagus untuk saham MSCI small caps dengan FIF rendah. Begini penjelasannya

Menemukan Durian Runtuh dari Analisis Free Cash Flow
Analisis Free Cash Flow juga berpotensi membuatmu menemukan saham yang tidak diduga-duga. Hal ini dialami oleh Bruce ketika meganalisis Mohawk Industries.
Mohawk Industries adalah perusahaan karpet dan keramik (lantai) yang dibeli oleh Bruce pada 2006. Waktu itu, Bruce membeli saham tersebut dengan harga di bawah 60 dolar AS per saham.
Bruce membeli saham itu dengan alasan perusahaan melaporkan laba bersih senilai 6,7 dolar AS per saham, tapi dari analisisnya free cash flow justru 9 dolar AS per saham. Di sini, muncul sebuah pertanyaan terkait posisi free cash flow yang bisa jauh lebih besar dari laba pada periode yang sama. Hasilnya, Bruce menemukan sebuah fakta:
Pertama, Mohawk Industries ini terus bertumbuh karena mengakuisisi pemain kecil sebagai bagian konsolidasi industri. Dari sini, Mohawk Industries mencapai economy of scale berupa penurunan biaya produksi dengan kenaikan jumlah fasilitas produksi. Hal ini menurunkan belanja modal dan modal kerja.
Kedua, Dalam aturan akuntansi GAAP, Mohawk Industries harus membebankan biaya signifikan untuk amortisasi aset tidak berwujud dalam aksi akuisisinya yang disebut good will. Padahal, biaya yang tercatat ini tidak sama sekali mengurangi uang kas secara nyata dari perusahaan tersebut.
Hasil akhirnya, Bruce menyebutkan mereka menilai Mohawk dijual dengan harga kurang dari 7 kali dari arus kas bebasnya (price to free cash flow per share). Artinya, investasi saham Mohawk di harga tersebut setara dengan membeli obligasi yang memiliki yield 14 persen.
Lalu, terjadilah krisis subprime mortgage pada 2008. Bisnis perumahan baru yang jadi target marketnya Mohawk mengalami tekanan. Artinya, hal itu juga negatif bagi bisnis Mohawk. Menariknya, di tengah tekanan itu,Mohawk masih menghasilkan free cash flow sekitar 6-7 dolar AS per saham.
Bruce menyebutkan, dengan metriks free cash flow sekitar 6-7 dolar AS per saham, dengan harga 75 dolar AS pun saham ini masih menarik karena tingkat price to free cash flow per share-nya baru 11-12 kali.
Dalam perkembangannya, saham Mohawk Industries memang sempat turun ke 21 dolar AS per saham pada 2009 ketika krisis terjadi. Namun, pemulihannya juga cukup cepat, bahkan sempat all time high tembus 285 dolar AS per saham pada 2017. Artinya, selama 11 tahun terakhir dan diasumsikan Bruce masih hold saham tersebut, berarti sudah untung 375 persen atau rata-rata keuntungan setiap tahunnya sekitar 15 persen per tahun.
Kelemahan Metriks Free Cash Flow
Tidak ada metode yang paling sempurna di saham, salah satu kelemahan dari free cash flow ini adalah saham-saham yang ditemukan cenderung saham dengan karakter perusahaan yang sudah matang. Artinya, bukan tipe saham yang bisa mencatatkan tumbuh dengan cepat.
Sehingga, bagi investor saham saat ini mungkin hasilnya tidak seheboh bagaimana volatilitas saham booming.
Apakah artinya metriks ini tidak berguna? menurut kami masih berguna untuk diversifikasi strategi saham antara di saham booming dengan saham yang sudah matang dan risiko bisnis rendah yang dilihat dengan perkembangan free cash flow-nya tersebut.
Mau Dapat Insight Saham dari Market Indonesia hingga Amerika Hanya Mulai dari Rp80.000 per bulan?
Dapatkan semua benefit Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham Indonesia dan Amerika mulai dari Rp80.000 per bulan :
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan – 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
- Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
💡
Disclaimer: artikel di sini hanya memberikan insight dan edukasi terkait pasar modal, bukan rekomendasi jual-beli.








