Kalau Muhammadiyah Punya Timnas, Mungkin Cara Mainnya Seperti Spanyol

banner





Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes

Ketua MPKU PDM Sidoarjo

Spanyol akhirnya menaklukkan Argentina dengan skor 1–0 melalui perpanjangan waktu pada final Piala Dunia 2026.

Kemenangan itu bukan sekadar tentang siapa yang memiliki pemain paling terkenal. Dari sisi statistik maupun pendekatan taktik, Spanyol menunjukkan sebuah pelajaran penting dalam sepak bola modern: sistem sering kali lebih kuat daripada kultus individu.

Mereka menguasai permainan, mampu membatasi ancaman utama Argentina, menjaga disiplin organisasi, dan tetap konsisten hingga gol kemenangan tercipta.

Di titik inilah sepak bola Spanyol terasa memiliki kemiripan dengan Muhammadiyah.

Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun dengan filosofi, “Selama KH Ahmad Dahlan masih ada, organisasi pasti aman.” Sebaliknya, KH Ahmad Dahlan membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri, yakni sebuah sistem.

Beliau meletakkan fondasi pendidikan, kesehatan, kaderisasi, organisasi, dan amal usaha yang dirancang agar tetap berjalan meski generasi berganti.

Dalam bahasa sepak bola, pemain bintang boleh pensiun, tetapi game plan tidak boleh ikut pensiun.

Pemain boleh berganti, tetapi filosofi permainan harus tetap hidup.

Spanyol juga memperlihatkan bahwa sebuah tim nasional tidak lahir hebat dalam semalam.

Keberhasilan mereka merupakan hasil proses panjang melalui pembinaan usia muda, akademi sepak bola, kompetisi yang sehat, metodologi latihan yang jelas, dan keberanian memberikan kesempatan kepada generasi baru.

Begitu pula Muhammadiyah.

Organisasi yang besar tidak cukup hanya memiliki tokoh-tokoh hebat pada satu generasi.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan selalu tersedia kader yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.

Bayangkan jika sebuah organisasi dipenuhi senior yang luar biasa, tetapi ketika muncul pertanyaan, “Siapa penerusnya?”, semua justru sibuk menunduk melihat telepon genggam.

Organisasi yang sehat bukan sekadar memiliki pemimpin hebat.

Organisasi yang sehat memiliki pabrik pemimpin.

Pelajaran berikutnya adalah tentang kerja kolektif.

Dalam sepak bola modern, pemain yang tidak sedang menguasai bola tetap bekerja.

Mereka membuka ruang, melakukan pressing, menjaga struktur permainan, dan menutup jalur umpan lawan.

Kontribusi mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam statistik, tetapi justru menjadi penentu kemenangan.

Dalam ilmu organisasi, kondisi ini dikenal sebagai team effectiveness, yakni keberhasilan tim yang lahir bukan dari sekadar penjumlahan kemampuan individu, melainkan dari koordinasi, kejelasan peran, saling percaya, dan tujuan yang sama.

Sebelas pemain hebat yang bermain sendiri-sendiri dapat dikalahkan oleh sebelas pemain yang memahami kapan harus berlari, kapan mengoper, dan—yang paling sulit—kapan tidak perlu menjadi pahlawan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kalau semua ingin menjadi striker, siapa yang menjaga pertahanan?

Kalau semua ingin tampil di podium, siapa yang menyiapkan kursi?

Kalau semua ingin memegang mikrofon, siapa yang memastikan sistem suara berfungsi?

Dan kalau semua ingin masuk ke dalam foto setelah acara, siapa yang membereskan banner?

Di sinilah semangat berjamaah menemukan maknanya.

Tidak semua orang harus menjadi bintang.

Yang dibutuhkan adalah setiap orang menjalankan amanahnya dengan ihsan.

Nilai ini sangat dekat dengan karakter Muhammadiyah sebagai organisasi yang bekerja dengan prinsip kolektif kolegial.

Kemenangan Spanyol menghadirkan sebuah rumus sederhana:

Visi + Sistem + Kaderisasi + Kerja Kolektif = Keunggulan Berkelanjutan.

Sepak bola ternyata bukan sekadar permainan yang berakhir ketika bola melewati garis gawang.

Ia juga merupakan laboratorium kepemimpinan yang memperlihatkan bagaimana organisasi dibangun, dijaga, dan diwariskan.

Spanyol menunjukkan bahwa organisasi yang sehat tidak bergantung pada satu “Messi” atau satu sosok penyelamat.

Sebaliknya, organisasi yang kuat mampu membuat setiap anggotanya menjadi penting di dalam sistem.

Mungkin inilah salah satu pelajaran yang juga menjelaskan mengapa Muhammadiyah mampu bertahan dan terus berkembang lebih dari satu abad.

Bukan karena sibuk melahirkan banyak bintang.

Melainkan karena terus membangun sistem yang membuat seluruh tim bergerak menuju tujuan yang sama.

Sebab pada akhirnya, baik dalam sepak bola maupun dalam gerakan dakwah, ukuran keberhasilan bukanlah siapa yang paling banyak mencetak gol.

Yang jauh lebih penting adalah apakah seluruh tim terus bergerak menuju gawang yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *