MEDAN, KOMPAS.com – Keterbatasan koleksi buku menjadi tantangan utama Sekolah Alam Istana Hati di Kota Binjai, Sumatera Utara, dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswanya.
Meski hanya memiliki sekitar 200 buku, sekolah itu tetap berkomitmen menghidupkan kembali program Membaca Nyaring pada tahun ajaran baru.
Ratusan buku tersebut disimpan di sebuah ruangan berukuran sekitar 3 x 2 meter yang dimanfaatkan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sementara itu, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) menggunakan koleksi buku terpisah di gedung yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi utama sekolah.
Baca juga: Cerita SDN 10 Lambung Bukit Padang Merajut Kembali Semangat Literasi Pascabanjir Bandang
Pendiri Sekolah Alam Istana Hati, Suwardiyamsyah, mengatakan, keterbatasan fasilitas tidak membuat pihaknya mengurungkan upaya meningkatkan minat baca siswa.
Menurut dia, sekolah tidak hanya mengejar jumlah peserta didik, tetapi juga kualitas, salah satunya melalui penguatan literasi.
Program Membaca Nyaring Diaktifkan Lagi
Suwardiyamsyah mengatakan, program Membaca Nyaring sempat berjalan rutin setiap Kamis sepanjang 2025 dan akan kembali diaktifkan mulai awal Agustus 2026.
Dalam program tersebut, seluruh siswa mengambil satu buku dari rak sebelum masuk kelas. Mereka diberi waktu membaca selama 15 menit, kemudian satu atau dua siswa diminta menceritakan kembali isi bacaan di depan teman-temannya.
“Satu hari dalam satu pekan programnya bernama Membaca Nyaring. Jadi sebelum masuk kelas, anak-anak mengambil buku dari rak dan wajib membaca selama 15 menit. Setelah itu, satu atau dua siswa disuruh maju untuk menceritakan kembali apa yang dibaca,” tutur Suwardiyamsyah saat ditemui di ruang guru, Sabtu (18/7/2026).
Pendiri Yayasan Sekolah Alam Istana Hati, Suwardiyamsyah, S.Ag sedang membaca sembari merapikan buku-buku yang ada di rak perpusatakaan sekolah di Jalan Arif Rahman Hakim No. 66, Lingkungan III, Kelurahan Nangka, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, Sabtu (18/7/2026).Melalui kegiatan itu, guru dapat melihat kemampuan pemahaman membaca para siswa.
Ke depan, program tersebut juga diharapkan menjadi sarana memetakan siswa yang memiliki bakat menulis.
“Itu mimpi kita. Melahirkan karya tulis sendiri. Pegiat literasi memang banyak bilang menulis itu akan sangat berat ketika tidak punya koleksi bacaan dalam pikiran. Jika jarang membaca akan sulit menulis. Nah lebih berat lagi dan enggak mungkin seseorang bisa membaca kalau tak tersedia bukunya,” ujarnya.
Koleksi Buku Didominasi Donasi
Suwardiyamsyah mengakui penyediaan buku menjadi tantangan sejak sekolah mendirikan jenjang SD dan SMP pada 2020.
Sebagian besar koleksi yang dimiliki berasal dari buku pribadi dan sumbangan teman-temannya.
“Disumbangkan teman ada sekitar lima sampai enam buku saja. Itu pun terakhir diberikan pada tahun 2023. Sampai sekarang belum ada bertambah,” ujarnya.
Baca juga: Lawan Keterbatasan Buku, Guru di Sidoarjo Kembangkan Website Literasi Berbasis AI







