Indonesia memiliki keunggulan pada interoperabilitas karena QRIS dirancang sebagai standar nasional.
JAKARTA – Analis Redseer Strategy Consultants, Roshan Raj Behera, menilai Indonesia muncul sebagai salah satu pemain paling agresif di ASEAN dalam pengembangan pembayaran QR lintas batas.
“Indonesia stands out for the pace of QRIS expansion,” ujarnya seperti dikutip dari TheBusinessTimes,
Menurutnya, meski volume transaksi domestik China dan India jauh lebih besar, Indonesia memiliki keunggulan pada interoperabilitas karena QRIS dirancang sebagai standar nasional yang dapat digunakan lintas bank dan dompet digital.
Berbeda dengan ekosistem pembayaran China yang didominasi platform seperti Alipay dan WeChat Pay, QRIS sejak awal dikembangkan sebagai standar terbuka sehingga lebih mudah dihubungkan dengan sistem pembayaran negara lain.
Sistem tersebut juga mendukung penyelesaian transaksi langsung menggunakan mata uang lokal sehingga mengurangi biaya konversi valuta asing dan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Terhubung dengan China
Indonesia mempercepat ekspansi sistem pembayaran digital lintas negara dengan menargetkan integrasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dengan Unified Payments Interface (UPI) milik India pada akhir 2026.
Langkah ini semakin mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu negara paling ambisius di Asia Tenggara dalam membangun jaringan pembayaran berbasis QR lintas batas.
Integrasi tersebut akan memungkinkan masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia maupun India melakukan pembayaran menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital yang sudah dimiliki, tanpa perlu menggunakan sistem pembayaran baru.
Ekspansi ke India dilakukan hanya beberapa bulan setelah Bank Indonesia meluncurkan konektivitas QRIS dengan sistem pembayaran China pada April 2026.
Melalui kerja sama yang telah berjalan dengan People’s Bank of China, wisatawan Indonesia kini dapat menggunakan aplikasi perbankan maupun dompet digital berbasis QRIS untuk bertransaksi di lebih dari 80 juta titik pembayaran Alipay dan UnionPay di China.
Sebaliknya, wisatawan China yang menggunakan Alipay atau UnionPay dapat berbelanja di lebih dari 40 juta merchant QRIS di Indonesia, yang mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
China saat ini merupakan pasar pembayaran QR terbesar di dunia dengan lebih dari 1,2 miliar transaksi setiap hari.
Sementara sistem UPI India memproses lebih dari 400 juta transaksi harian. Sebagai perbandingan, QRIS menangani sekitar 170 juta transaksi per hari.
Perluasan jaringan pembayaran lintas negara mulai tercermin pada peningkatan penggunaan QRIS.
Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi QRIS lintas batas melonjak 380% secara tahunan menjadi Rp2,71 triliun selama Januari-Mei 2026.
Volume transaksi juga meningkat 339% menjadi 2,06 juta transaksi.
Sebanyak 83% dari total nilai transaksi berasal dari wisatawan asing yang berbelanja di Indonesia, dengan nilai mencapai Rp2,25 triliun.
Pengguna asal Malaysia menyumbang porsi terbesar sebesar 58%, disusul wisatawan China sebesar 39%.
Sementara itu, masyarakat Indonesia membelanjakan sekitar Rp466 miliar menggunakan QRIS di luar negeri, terutama di Malaysia dan Thailand.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan lonjakan transaksi tersebut didorong meningkatnya mobilitas lintas negara, pemulihan sektor pariwisata, serta semakin luasnya kerja sama konektivitas pembayaran antara Bank Indonesia dan mitra internasional.
Peluang Besar bagi UMKM
CEO Dana Vince Iswara menilai manfaat pembayaran QR lintas negara tidak hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga jutaan pelaku UMKM.
Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan transaksi yang lebih cepat, murah, dan minim penggunaan uang tunai, sekaligus mengurangi biaya yang selama ini dikenakan jaringan kartu kredit.
Saat ini Dana memiliki lebih dari 200 juta pengguna terdaftar dan memproses sekitar 70 juta transaksi domestik setiap hari.
Biaya layanan QRIS bagi merchant juga relatif rendah, yakni sekitar 0,7%, jauh di bawah biaya yang umumnya dikenakan jaringan kartu kredit. Kondisi ini mendorong semakin banyak UMKM mengadopsi pembayaran digital.
Iswara menilai konektivitas pembayaran dengan China juga membuka peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menjangkau konsumen luar negeri secara langsung melalui pembayaran berbasis QR.
Ia memperkirakan transaksi lintas negara melalui koridor Indonesia-China berpotensi mencatat pertumbuhan lebih dari 100% seiring meningkatnya perdagangan, pariwisata, dan arus remitansi antara kedua negara. (DK)
sebagai sumber pilihan di Google







