Menurut Ngan Quynh, menirukan gaya seorang artis terkenal bukanlah hal mudah. Lagu-lagu yang menjadi ikon bagi nama-nama besar selalu membutuhkan teknik vokal yang tinggi, penanganan yang halus, dan gaya penampilan yang khas. Oleh karena itu, dalam perannya sebagai juri, artis wanita ini mengatakan bahwa ia tidak terlalu menekankan pada kontestan yang harus menjadi replika absolut dari idola mereka. Yang lebih ia pedulikan adalah emosi, semangat, dan investasi yang diberikan dalam penampilan tersebut.
“Tidak ada seorang pun yang bisa bernyanyi persis seperti orang lain. Bahkan jika suaranya tidak sama persis, jika gaya penampilannya bagus dan kehadiran di panggungnya luar biasa, saya tetap bersedia memberikan poin tambahan. Yang penting adalah menyampaikan semangat karakter kepada penonton,” ungkapnya.

Ngan Quynh berbagi pengalamannya dengan para kontestan di acara “Transformasi Tak Terduga”.
Sedikit orang yang tahu bahwa Ngân Quỳnh sendiri pernah menjalani perjalanan transformasi karakter serupa dalam sebuah program televisi lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat itu juga merupakan masa ketika aktris tersebut memasuki masa paruh baya yang penuh gejolak. Mengenang masa itu, Ngân Quỳnh tak bisa menyembunyikan emosinya, mengatakan bahwa kesempatan untuk memerankan banyak karakter berbeda membantunya menemukan kembali energi positif.
“Program tahun itu seperti memberi saya kesempatan hidup baru. Melangkah ke atas panggung, bernyanyi, dan memerankan berbagai karakter membantu saya mengatasi krisis paruh baya saya.” Pengalaman itu membuat Ngan Quynh semakin menyadari tekanan yang dihadapi para kontestan ketika mereka harus bernyanyi, berakting, dan menirukan tingkah laku seorang artis terkenal secara bersamaan.
Refleksi seniman Ngan Quynh
Mengenang hampir 40 tahun kariernya, Ngan Quynh dengan jujur mengakui bahwa ia pernah kesulitan menemukan pijakan karena belum menemukan jalan hidupnya yang sebenarnya. Artis wanita ini mencoba berbagai genre musik tetapi tidak tahu apa kekuatan sebenarnya. “Dulu, saya menyanyikan semua jenis genre tetapi tidak bisa menentukan mana yang cocok untuk saya. Karena saya tidak tahu siapa diri saya, jalan artistik saya rapuh dan tidak pasti.”
Seniman Ngan Quynh tetap bersemangat dengan karya seninya di usia 60 tahun.

Saat ini, Ngan Quynh menikmati kehidupan yang damai bersama suaminya, tetapi ia tetap berdedikasi pada karier seninya. Baru setelah bertahun-tahun berpengalaman ia menyadari bahwa hal terpenting adalah memahami kemampuan diri sendiri daripada mengejar hal-hal yang tidak sesuai dengannya. Menurut sang artis, belajar dari idola sangat penting, tetapi seseorang tidak boleh menjadi tiruan orang lain.
Ia mengaku, “Saat saya masuk program ini, saya mengubah diri saya, saya menghayati peran tersebut. Tetapi begitu saya keluar dari program ini, saya harus menjadi diri saya sendiri. Saya belajar untuk berkembang, bukan menjadi bayangan orang lain.” Bagi Ngan Quynh, itulah batasan antara menemukan jati diri baru dan kehilangan identitasnya sebagai seorang seniman.
Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri pada seni, Ngan Quynh percaya bahwa yang membuat penonton tetap tertarik bukanlah ketenaran, melainkan ketulusan. “Jiwa seorang seniman haruslah tulus. Saat melangkah ke atas panggung, Anda harus jujur pada emosi Anda dan tahu bintang mana Anda di langit untuk bersinar dengan cara Anda sendiri,” ujarnya. Mungkin filosofi inilah yang memungkinkan Ngan Quynh, melalui setiap peran dan setiap penampilan publiknya, untuk mempertahankan citra yang hangat dan abadi di hati banyak generasi penonton.
Dalam acara “Transformasi Tak Terduga ,” Ngan Quynh tidak hanya memberikan umpan balik profesional kepada para kontestan, tetapi juga menginspirasi mereka dengan perjalanan hidupnya sendiri yang penuh dengan kemunduran dan bangkit kembali. Pada akhirnya, kesimpulan yang dicapai oleh seniman wanita ini adalah: “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Selama Anda tahu siapa diri Anda dan apa yang Anda lakukan, seni selalu memiliki kesempatan untuk bersinar.”
Sumber:









