Natal tidak hanya hadir sebagai perayaan ritual keagamaan atau kemeriahan tahunan di ruang publik. Di balik gemerlap lampu dan lagu-lagu khas Desember, Natal menjadi tempat pulang bersama keluarga hingga diri sendiri.
Hal ini dimaknai beberapa selebritas muda Indonesia yang biasa disibukkan dengan banyak aktivitas di bidangnya. Ada Jerhemy Owen, influencer yang aktif dalam isu lingkungan; Bernadya, penyanyi solo perempuan yang terkenal dengan lagu ”Satu Bulan”; penyanyi pria pemilik tiga proyek musik, Daniel Baskara Putra; dan mahasiswi pemenang kedua realitas permainan Clash of Champions 2025, Keisha Rochelline Simorangkir.
Di tengah kesibukan mereka berkarya, Natal menjadi momen mereka ”pulang” pada kehangatan keluarga dan berefleksi pada apa yang telah terjadi di sekitar mereka. Berikut petikan wawancara dengan empat seleb muda tersebut bersama Kompas, sepanjang Desember 2025.
Bernadya
Makna serupa, namun dengan warna kenangan masa kecil yang kuat, dirasakan Bernadya. Penyanyi muda ini, kepada Kompas, melalui sambungan telepon, Rabu (17/12/2025), mengatakan, Natal sejak dulu identik dengan tradisi keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga yang merayakan Natal dengan penuh suka cita—lengkap dengan sosok ”Opa Santa”.
”Dulu opaku selalu jadi Santa Klaus dan manggil cucunya satu-satu ke depan. Itu yang paling aku tunggu-tunggu,” kata Bernadya, yang kini merayakan Natal di Surabaya, Jawa Timur. Tradisi tukar kado dan makan malam bersama keluarga setiap Natal menjadi rangkaian yang tak terpisahkan dari makna hari raya ini.
Meski waktu berlalu dan sang opa telah tiada, esensi Natal bagi Bernadya tetap sama, yaitu family time.
Jerhemy Owen
Influencer dengan jutaan follower di media sosial ini merasakan Natal tahun ini spesial. Setelah tahun sebelumnya ia berpisah jarak dengan keluarga karena menempuh pendidikan di Belanda, sementara orangtuanya tinggal di Indonesia dan sang kakak di Australia, Natal kali ini menghadirkan kembali kebersamaan yang lama dirindukan.
”Natal tahun ini terasa sangat personal. Biasanya kami terpencar. Tahun ini kami bisa berkumpul bersama,” katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Bagi Jerhemy, Natal dan Tahun Baru juga bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk menenangkan diri. Di tengah ritme hidup yang cepat, momen ini menjadi jeda untuk refleksi dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih. Kebersamaan itulah yang memberi makna paling dalam bagi Natal-nya tahun ini.
Baskara Putra
Sementara itu, vokalis Hindia dan band .feast ini memaknai Natal dengan cara yang lebih kontemplatif. Sebagai seorang Katolik di Indonesia, ia melihat Natal sebagai sebuah paradoks: perayaan besar yang terasa sunyi. ”Di media, Natal tampak sangat ramai, tapi di sini komunitasnya kecil,” ujarnya kepada Kompas, Senin (8/12/2025).
Justru dari kontras itulah Natal menjadi ruang introspeksi. Baskara terbiasa menengok kembali perjalanan setahun yang telah dilalui—apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang ingin diperbaiki. Refleksi itu, baginya, datang lebih dulu di Natal sebelum Tahun Baru tiba. ”Natal selalu membawa saya kembali ke dalam, ke kepala dan hati saya sendiri,” ucapnya.
Rochelline Simorangkir
Berbeda lagi dengan Roche, panggilan akrab Keisha Rochelline Simorangkir, yang melihat Natal dalam bingkai sosial yang lebih luas. Baginya, Natal identik dengan harapan—tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi banyak orang. Ia menyadari, tidak semua orang memiliki privilese untuk merayakan Natal secara meriah, terutama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari bencana alam hingga persoalan sosial dan politik.
Ia berharap Natal tetap menghadirkan rasa aman dan damai, sekaligus mengingatkan bahwa harapan bagi Indonesia yang lebih baik masih ada. ”Semoga Natal bisa membawa pengharapan bagi banyak orang,” katanya kepada Kompas di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Dari kisah-kisah ini, Natal tampil bukan sebagai perayaan seragam, melainkan pengalaman yang personal dan berlapis. Ada yang menjadikannya momen pulang secara fisik, ada yang pulang pada kenangan, ada pula yang pulang ke batin dan harapan. Di tengah dunia yang terus bergerak, Natal menjadi pengingat akan hal-hal yang paling esensial: kebersamaan, refleksi, dan harapan.
Natal tidak hanya hadir sebagai perayaan ritual keagamaan atau kemeriahan tahunan di ruang publik. Di balik gemerlap lampu dan lagu-lagu khas Desember, Natal menjadi tempat pulang bersama keluarga hingga diri sendiri.
Hal ini dimaknai beberapa selebritas muda Indonesia yang biasa disibukkan dengan banyak aktivitas di bidangnya. Ada Jerhemy Owen, influencer yang aktif dalam isu lingkungan; Bernadya, penyanyi solo perempuan yang terkenal dengan lagu ”Satu Bulan”; penyanyi pria pemilik tiga proyek musik, Daniel Baskara Putra; dan mahasiswi pemenang kedua realitas permainan Clash of Champions 2025, Keisha Rochelline Simorangkir.
Di tengah kesibukan mereka berkarya, Natal menjadi momen mereka ”pulang” pada kehangatan keluarga dan berefleksi pada apa yang telah terjadi di sekitar mereka. Berikut petikan wawancara dengan empat seleb muda tersebut bersama Kompas, sepanjang Desember 2025.
Bernadya
Makna serupa, namun dengan warna kenangan masa kecil yang kuat, dirasakan Bernadya. Penyanyi muda ini, kepada Kompas, melalui sambungan telepon, Rabu (17/12/2025), mengatakan, Natal sejak dulu identik dengan tradisi keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga yang merayakan Natal dengan penuh suka cita—lengkap dengan sosok ”Opa Santa”.
”Dulu opaku selalu jadi Santa Klaus dan manggil cucunya satu-satu ke depan. Itu yang paling aku tunggu-tunggu,” kata Bernadya, yang kini merayakan Natal di Surabaya, Jawa Timur. Tradisi tukar kado dan makan malam bersama keluarga setiap Natal menjadi rangkaian yang tak terpisahkan dari makna hari raya ini.
Meski waktu berlalu dan sang opa telah tiada, esensi Natal bagi Bernadya tetap sama, yaitu family time.
Jerhemy Owen
Influencer dengan jutaan follower di media sosial ini merasakan Natal tahun ini spesial. Setelah tahun sebelumnya ia berpisah jarak dengan keluarga karena menempuh pendidikan di Belanda, sementara orangtuanya tinggal di Indonesia dan sang kakak di Australia, Natal kali ini menghadirkan kembali kebersamaan yang lama dirindukan.
”Natal tahun ini terasa sangat personal. Biasanya kami terpencar. Tahun ini kami bisa berkumpul bersama,” katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Bagi Jerhemy, Natal dan Tahun Baru juga bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk menenangkan diri. Di tengah ritme hidup yang cepat, momen ini menjadi jeda untuk refleksi dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih. Kebersamaan itulah yang memberi makna paling dalam bagi Natal-nya tahun ini.
Baskara Putra
Sementara itu, vokalis Hindia dan band .feast ini memaknai Natal dengan cara yang lebih kontemplatif. Sebagai seorang Katolik di Indonesia, ia melihat Natal sebagai sebuah paradoks: perayaan besar yang terasa sunyi. ”Di media, Natal tampak sangat ramai, tapi di sini komunitasnya kecil,” ujarnya kepada Kompas, Senin (8/12/2025).
Justru dari kontras itulah Natal menjadi ruang introspeksi. Baskara terbiasa menengok kembali perjalanan setahun yang telah dilalui—apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang ingin diperbaiki. Refleksi itu, baginya, datang lebih dulu di Natal sebelum Tahun Baru tiba. ”Natal selalu membawa saya kembali ke dalam, ke kepala dan hati saya sendiri,” ucapnya.
Rochelline Simorangkir
Berbeda lagi dengan Roche, panggilan akrab Keisha Rochelline Simorangkir, yang melihat Natal dalam bingkai sosial yang lebih luas. Baginya, Natal identik dengan harapan—tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi banyak orang. Ia menyadari, tidak semua orang memiliki privilese untuk merayakan Natal secara meriah, terutama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari bencana alam hingga persoalan sosial dan politik.
Ia berharap Natal tetap menghadirkan rasa aman dan damai, sekaligus mengingatkan bahwa harapan bagi Indonesia yang lebih baik masih ada. ”Semoga Natal bisa membawa pengharapan bagi banyak orang,” katanya kepada Kompas di Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Dari kisah-kisah ini, Natal tampil bukan sebagai perayaan seragam, melainkan pengalaman yang personal dan berlapis. Ada yang menjadikannya momen pulang secara fisik, ada yang pulang pada kenangan, ada pula yang pulang ke batin dan harapan. Di tengah dunia yang terus bergerak, Natal menjadi pengingat akan hal-hal yang paling esensial: kebersamaan, refleksi, dan harapan.