Jajan Receh Kini Dominasi QRIS, Apa Dampaknya bagi Keuangan?

banner

JAKARTA, – Perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi semakin terlihat seiring meluasnya penggunaan pembayaran digital. Jika beberapa tahun lalu dompet digital identik dengan belanja daring, kini mayoritas transaksi justru berlangsung di gerai fisik.

Di tengah tren tersebut, transaksi makanan dan minuman bernilai kecil atau jajan receh menjadi kontributor utama penggunaan QRIS.

Data OVO menunjukkan pada 2021 sekitar 68 persen transaksi masih dilakukan di platform online. Namun, pada 2025 komposisinya berbalik, dengan 69 persen transaksi berlangsung secara offline di toko, gerai, hingga warung konvensional.

Pergeseran tersebut mencerminkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

Kategori makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan transaksi offline.

Baca juga: 4 Cara Memanfaatkan QRIS agar Pengeluaran Harian Lebih Hemat

Sepanjang 2021 hingga 2025, transaksi di merchant F&B offline meningkat hingga 590 persen. Hingga Mei 2026, mayoritas transaksi QRIS OVO pada kategori ini berasal dari pembelian bernilai kecil, mulai dari pentol, paket nasi ayam, crepes, es krim, hingga kopi kekinian.

OVO juga mencatat rata-rata pengguna melakukan hampir delapan transaksi QRIS setiap bulan. Frekuensi yang tinggi ini menunjukkan pembayaran digital semakin melekat dalam pola konsumsi harian masyarakat.

Di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa meningkatnya risiko pengeluaran yang tidak disadari.

Dalam kajian psikologi keuangan The Pain of Payment: A Review and Research Agenda (2022), Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku, Melvin Mumpuni menjelaskan bahwa transaksi digital yang berlangsung cepat dan tanpa kontak fisik membuat pengguna kehilangan sensasi “pain of paying”, sehingga cenderung lebih mudah mengeluarkan uang.

Baca juga: Transaksi QRIS Kian Ramai, Flip Bidik Kebutuhan Pembayaran UMKM

Fenomena itu mendorong pentingnya penerapan konsep mindful spending, yakni berbelanja secara sadar sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.

Untuk meningkatkan literasi keuangan digital, OVO melalui program OVOFinTalk menggandeng Finansialku menggelar diskusi bertajuk Bijak di Era Cashless: Membangun Kebiasaan Finansial yang Lebih Cerdas dan Aman di Era Digital.

Melvin mengatakan kemudahan teknologi perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang disiplin.

“Masyarakat tetap bisa menikmati kemudahan pembayaran digital dan memanfaatkan promo, selama hal itu dilakukan dengan prinsip mindful spending atau belanja secara sadar,” ujar Melvin dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).

“Salah satu caranya adalah menerapkan langkah Atur, Aman, dan Awasi,” lanjut dia.

Baca juga: Promo Lawson Hari Ini 13 Juli 2026, Diskon Rp 15.000 Pakai QRIS Aladin


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *