Grid.ID
Meisya Amira akui belajar bahasa isyarat demi perankan karakter tunarungu di film Juminten Edan.
Grid.ID – Aktris muda Meisya Amira menghadapi tantangan baru dalam perjalanan karier aktingnya. Untuk pertama kalinya, ia dipercaya memerankan karakter tunarungu dan tunawicara dalam film terbarunya yang berjudul Juminten Edan. Demi memberikan penampilan yang autentik, Meisya harus mempelajari bahasa isyarat hingga memahami cara menyampaikan emosi tanpa mengandalkan dialog.
Bagi Meisya, proses tersebut menjadi salah satu pengalaman paling menantang yang pernah ia jalani sebagai seorang aktris. Pasalnya, sebelum menerima peran ini, ia sama sekali belum memiliki pengalaman mempelajari bahasa isyarat maupun memahami bagaimana berkomunikasi sebagai penyandang disabilitas pendengaran.
“Kalau jadi seorang tunawicara dan juga tunarungu itu menurutku sangat susah, challenging banget karena aku belum pernah belajar sebelumnya, baru kali ini,” ungkap Meisya Amira di kawasan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Menurut Meisya, pelatihan tersebut menjadi bekal penting agar ia dapat tampil lebih meyakinkan di depan kamera. Selama masa workshop, ia belajar bersama rekan-rekan pemain, termasuk Dimas dan Sharon, di bawah arahan pelatih yang berpengalaman.
“Dan di sini kita emang ada coaching dan juga kita belajar dua minggu sama-sama, sama Mas Dimas juga, sama Sharon juga. Dan itu menurut aku pengalaman yang baru dan pembelajaran yang baru juga,” sambungnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Meisya bukan sekadar menghafal bahasa isyarat. Ia justru merasa kesulitan ketika harus menampilkan berbagai emosi tanpa bantuan dialog.
Jika biasanya seorang aktor dapat mengandalkan intonasi suara untuk memperkuat emosi sebuah adegan, kali ini Meisya dituntut menyampaikan seluruh perasaan hanya melalui tatapan mata, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan bahasa isyarat. Ia mengaku membutuhkan proses yang tidak singkat untuk membiasakan diri dengan cara berakting tersebut.
“Yang menurut aku juga challenging adalah gimana aku harus mengekspresikan semuanya tanpa dialog dari mata, emosi, semuanya itu bener-bener dilakukan dengan bahasa isyarat. Itu salah satu yang bener-bener pengalaman baru dan lumayan sulit bagi aku tapi dengan adanya proses, alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancar,” kata Meisya.
Agar penggambaran karakter lebih akurat, tim produksi menghadirkan seorang coach yang merupakan penyandang tunarungu. Kehadiran pelatih tersebut dinilai sangat membantu para pemain memahami cara berkomunikasi sekaligus budaya dalam komunitas tuli.
Meisya mengatakan proses belajar berlangsung secara intensif. Bahkan, ada hari khusus yang difokuskan hanya untuk mempelajari bahasa isyarat agar setiap gerakan yang dilakukan sesuai dengan penggunaannya.
“Ya kita ada workshop sama dua minggu itu sama coach yang emang dia itu tunarungu sih sebenernya. Jadi bener-bener intens belajar dan ada satu hari emang aku khusus belajar bahasa isyarat,” tuturnya.
Baca Juga: Dibintangi Oleh Dimas Aditya yang Angkat Isu Sosial, Yuk Intip Sinopsis Film Horor Juminten Edan
PROMOTED CONTENT








