PROBOLINGGO, KOMPAS.com – Gawai sering kali dituding sebagai biang keladi merosotnya minat baca anak-anak zaman sekarang.
Namun, di SD Kebonagung I Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, ponsel pintar justru dijinakkan untuk menjadi jembatan menuju dunia literasi.
Pagi itu, suasana perpustakaan sekolah tampak hidup. Anak-anak berkerumun, jemari mereka lincah membalik halaman demi halaman buku.
Kebiasaan ini bukan kebetulan. Setiap pagi, murid kelas I hingga VI diwajibkan menyambangi perpustakaan sebelum pelajaran dimulai. Tak hanya di perpustakaan, setiap ruang kelas kini disulap memiliki “pojok baca” sendiri.
Baca juga: Minat Baca Murid Rendah, Guru SD di Kampar Bertahan dengan Pojok Baca dan Buku Seadanya
“Anak-anak itu paling suka membaca buku cerita yang bergambar, buku ilmu pengetahuan, ensiklopedia, dan sejarah. Tapi memang buku cerita bergambar yang paling digemari,” ujar Sri Hayati, Plt Kepala SD Kebonagung I Kraksaan, Senin (13/7/2026).
Sri boleh sedikit bernapas lega karena tingkat literasi siswanya kini berada di zona hijau, kategori yang terbilang lumayan. Namun, mempertahankan minat baca anak di era digital bukan perkara mudah.
Guru harus bersaing ketat dengan algoritma gim dan media sosial yang memikat.
Strategi Sri terbilang unik. Dia melawan teknologi dengan teknologi.
Ia justru memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melalui ponsel Android-nya, alih-alih melarang penggunaan gawai.
Baca juga: Kisah Kampung Baca Tansal di Kalbar, Menyusuri Sungai Antarkan Buku ke Pelosok Desa
“Saya menggunakan aplikasi AI. Misalnya dengan mengetik perintah (prompt): ‘Carikan saya buku untuk anak yang mudah marah.’ Intinya, prompt-nya saya buat tematik sesuai kebutuhan dan minat si anak,” jelas Sri.
Langkah cerdas ini diambil agar anak-anak sadar bahwa gawai tidak hanya untuk bermain, melainkan gudang pengetahuan.
“Tujuan akhirnya, literasi anak terus dijaga agar saat pegang gawai sekalipun, mereka tetap gemar membaca,” tambahnya.
Meski semangat membaca siswa membubung tinggi, Sri menghadapi tembok pembatas, yaitu kejenuhan.
Koleksi 400 judul buku di perpustakaan sekolahnya mulai habis dilahap para siswa. Mereka butuh asupan cerita baru.
Baca juga: Kisah Anik Triyani, Ajak Anak-anak di Magelang Gemar Baca Lewat Dongeng hingga Bernyanyi
Bukan sekadar judul baru, Sri juga menekankan pentingnya kualitas fisik buku.








